Transit Oriented Development (TOD) adalah pendekatan perencanaan kawasan yang mengintegrasikan transportasi publik, tata guna lahan, dan aktivitas perkotaan dalam satu kesatuan. Konsep ini mendorong terbentuknya kawasan yang mudah dijangkau dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun transportasi umum sehingga ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat dikurangi.
TOD umumnya dikembangkan di sekitar stasiun atau simpul transportasi dengan karakteristik kepadatan yang lebih tinggi, penggunaan lahan campuran, konektivitas yang baik, serta lingkungan yang ramah pejalan kaki. Pendekatan ini tidak hanya berkaitan dengan pembangunan transportasi, tetapi juga bagaimana kawasan di sekitarnya dirancang agar lebih efisien, inklusif, dan layak huni.
Mengapa TOD Penting bagi Perkotaan?
Pertumbuhan kota dan meningkatnya mobilitas masyarakat menghadirkan berbagai tantangan, terutama kemacetan, ketergantungan pada kendaraan pribadi, serta ketidakterpaduan antara transportasi dan tata guna lahan.
Beberapa persoalan yang menjadi dasar pentingnya penerapan TOD antara lain:
1. Kemacetan dan ketergantungan kendaraan pribadi
Kota-kota besar menghadapi peningkatan volume perjalanan yang berdampak pada kemacetan dan waktu tempuh. Pengembangan transportasi publik yang terintegrasi dapat menjadi alternatif terhadap penggunaan kendaraan pribadi.
2. Transportasi publik yang belum terintegrasi
Keberadaan moda transportasi publik saja belum cukup. Pengguna membutuhkan koneksi yang mudah antara MRT, LRT, BRT, kereta komuter, feeder, serta jaringan pejalan kaki dan sepeda.
3. Tata guna lahan yang belum terintegrasi
Ketika pusat kegiatan, permukiman, dan transportasi berkembang secara terpisah, masyarakat cenderung harus melakukan perjalanan lebih jauh. TOD berupaya mendekatkan berbagai fungsi tersebut.
4. Kualitas kawasan sekitar transit
Stasiun tidak seharusnya hanya menjadi tempat naik dan turun penumpang. Kawasan di sekitarnya perlu menyediakan ruang publik, fasilitas pejalan kaki, aktivitas ekonomi, dan hunian yang mendukung kehidupan sehari-hari. Source: Contemporary Planning
Prinsip Utama Transit Oriented Development
Penerapan TOD membutuhkan integrasi antara aspek transportasi dan pengembangan kawasan. Beberapa prinsip utama yang dapat diterapkan adalah:
1. Penggunaan lahan campuran
Menggabungkan fungsi hunian, perdagangan, perkantoran, fasilitas publik, dan rekreasi dalam satu kawasan agar kebutuhan sehari-hari dapat dijangkau dengan perjalanan yang lebih pendek.
2. Kawasan ramah pejalan kaki
Menyediakan trotoar yang nyaman, akses yang aman, jalur sepeda, serta koneksi langsung menuju stasiun atau halte.
3. Kepadatan yang sesuai
Kepadatan kawasan di sekitar simpul transportasi dapat ditingkatkan untuk mendukung jumlah pengguna transportasi publik sekaligus memanfaatkan lahan secara lebih efisien.
4. Infrastruktur hijau
Ruang terbuka hijau, taman, dan infrastruktur hijau lainnya dapat menjadi bagian dari kawasan TOD untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kenyamanan masyarakat.
5. Integrasi antarmoda
TOD membutuhkan koneksi yang mudah antara berbagai moda transportasi. Integrasi ini mencakup jaringan fisik, akses pejalan kaki, hingga sistem pembayaran yang memudahkan perpindahan moda. Source: Contemporary Planning
TOD dan Perencanaan Kota
TOD pada dasarnya bukan hanya proyek transportasi. TOD merupakan pendekatan pengembangan kawasan yang menghubungkan transportasi dengan tata ruang.
Karena itu, perencanaan TOD perlu mempertimbangkan:
- struktur dan pola ruang kawasan;
- kepadatan dan intensitas pemanfaatan ruang;
- penggunaan lahan campuran;
- jaringan transportasi publik;
- konektivitas pejalan kaki dan sepeda;
- ruang terbuka publik;
- hunian yang terjangkau;
- fasilitas pelayanan umum;
- serta kebijakan yang mengatur perkembangan kawasan.
Pendekatan ini menjadi semakin penting ketika pengembangan kawasan transit berpotensi mengubah struktur ruang dan mendorong densifikasi maupun komersialisasi di sekitar stasiun. Source: Contemporary Planning
Studi Kasus TOD di Indonesia
TOD MRT Jakarta
Pada 2017, HAS Consulting Group bersama Royal Haskoning mengembangkan skenario pembangunan dan implikasi perencanaan untuk MRT Jakarta. Kajian tersebut mencakup wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan serta beberapa kecamatan yang berada dalam pengaruh jalur MRT. Contemporary Planning
Beberapa aspek yang menjadi perhatian dalam pengembangan skenario tersebut meliputi:
- proyeksi pertumbuhan sosial-ekonomi dan jumlah penumpang;
- pengembangan sistem feeder;
- integrasi pembayaran transportasi;
- kebijakan tarif;
- integrasi MRT dengan LRT, BRT, dan kereta komuter;
- serta kebijakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Dari sisi perencanaan kawasan, pengembangan TOD MRT juga perlu didukung fasilitas publik, ruang terbuka, hunian yang terjangkau, dan konektivitas antarmoda.
TOD Halim
Pada 2017, HAS Consulting Group bersama konsorsium Indonesia-Cina (KCIC) mengembangkan skenario pembangunan dan implikasi perencanaan TOD Halim.
Kawasan Halim memiliki posisi strategis karena menghubungkan kereta cepat, LRT, BRT, dan akses menuju bandara. Kondisi tersebut menjadikan kawasan ini berpotensi berkembang sebagai salah satu simpul transportasi penting di Jakarta. Source: Contemporary Planning
Perencanaan TOD Halim perlu memperhatikan beberapa aspek, antara lain:
- integrasi berbagai moda transportasi;
- perubahan struktur dan fungsi ruang;
- peningkatan kepadatan di sekitar stasiun;
- kebutuhan infrastruktur baru;
- pengembangan fasilitas publik dan ruang terbuka;
- integrasi fungsi komersial, hunian, dan fasilitas umum;
- serta penyesuaian kebijakan tata ruang.
Tantangan Penerapan TOD
TOD tidak cukup hanya dengan membangun stasiun atau meningkatkan kapasitas transportasi publik. Keberhasilannya bergantung pada integrasi antara transportasi, tata ruang, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
Integrasi antarmoda — perpindahan antartransportasi harus mudah dan nyaman.
Konektivitas kawasan — stasiun harus terhubung dengan lingkungan sekitarnya, bukan menjadi titik yang terisolasi.
Kelayakhunian — kawasan perlu menyediakan ruang publik, fasilitas, dan lingkungan yang nyaman.
Keterjangkauan hunian — peningkatan nilai kawasan tidak seharusnya membuat masyarakat berpenghasilan rendah kehilangan akses terhadap kawasan transit.
Kebijakan tata ruang — perkembangan TOD perlu didukung oleh RTRW, RDTR, dan kebijakan transportasi yang selaras.
Kesimpulan
Transit Oriented Development (TOD) merupakan pendekatan perencanaan kota yang mengintegrasikan transportasi publik dengan tata guna lahan dan pengembangan kawasan.
Jika direncanakan secara terpadu, TOD dapat membantu menciptakan kawasan yang lebih mudah diakses, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, memperpendek perjalanan, serta meningkatkan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Pengalaman pengembangan MRT Jakarta dan TOD Halim menunjukkan bahwa TOD membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur transportasi. Integrasi antarmoda, tata guna lahan, fasilitas publik, kebijakan transportasi, hunian, dan kualitas ruang menjadi bagian penting dalam membangun kawasan transit yang berkelanjutan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang dimaksud dengan Transit Oriented Development (TOD)?
Apa tujuan utama penerapan TOD?
Apa saja ciri kawasan TOD?
Apakah TOD hanya diterapkan di sekitar stasiun?
Apa hubungan TOD dengan tata ruang?
Apa manfaat TOD bagi masyarakat?
Apa saja prinsip utama Transit Oriented Development?
Apa contoh penerapan TOD di Indonesia?
Apa tantangan dalam penerapan TOD?
Mengapa TOD penting untuk kota-kota di Indonesia?
Pelajari Perencanaan Wilayah Lebih Mendalam
Ingin memahami lebih jauh tentang TOD, tata ruang, dan berbagai pendekatan dalam perencanaan wilayah dan kota?
Temukan materi pembelajaran dan kursus yang dirancang untuk membantu Anda memahami konsep serta penerapannya secara lebih praktis.

